Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 01 Maret 2009

Minat adalah perhatian atau kecenderungan hati seseorang kepada suatu objek (Poerwadarminta, 1982).
Pengertian minat menurut Sabri (1996) adalah suatu kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus. Minat erat kaitannya dengan perasaan terutama perasaaan senang, karena itu dapat dikatakan bahwa minat itu terjadi karena sikap senang terhadap sesuatu.
Minat merupakan sumber motivasi, mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila bebas memilih (Miflen, 1986).
Pasaribu dan Simanjuntak (1983) mendefenisikan tentang minat bahwa minat merupakan suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan benda yang menariknya. Kita menaruh minat terhadap sesuatu, karena sesuatu tersebut berguna untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan organik dan pelepas diri dari bahaya.
Minat biasa juga disebut sebagai kesadaran seseorang terhadap sesuatu atau perkara yang ada hubungannya dengan dirinya, seperti dikemukakan oleh Whitherington (1984), bahwa minat adalah kesadaran seseorang terhadap sesuatu atau perkara yang ada sangkut paut atau hubungan dengan dirinya. Minat harus dipandang sebagai sambutan yang sadar, karena kalau tidak demikian minat itu tidak mempunyai arti pengetahuan atau informasi tentang seseorang mengenai objek harus disadari dengan dukungan minat untuk menekuninya.
Adapun batasan atau pengertian belajar telah dijelaskan oleh banyak ahli. Gutheris dalan Arifin (1979), menjelaskan pengertian belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari pengalaman yang diperoleh seseorang. Perubahan tersebut bukan disebabkan oleh tendensi (kecenderunan) tabiat yang otomatis membawa perubahan seperti faktor kelemahan dan sebagainya. hal ini sejalan dengan pendapat Sukardi (1987) bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses matangnya seseorang atau yang indtinktif atau bersifat temporer.
Pengertian belajar di atas, mengandung makna bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari suatu pengalaman. Namun tidak semua perubahan yang terjadi disebabkan oleh perubahan dari suatu pengalaman. Misalnya perubahan tingkah laku dari tidak bisa jalan menjadi bisa jalan, dari tidak tahu berkata menjadi tahu berkata, perubahan seperti ini adalah suatu perubahan yang bersifat alami, pasti terjadi pada setiap orang yang normal (Gutheria dalam Arifin, 1979).
Winkel (1984) menjelaskan pengertian belajar sebagai suatu proses mental, mengarah pada penguasaan pengetahuan/skill, kebiasaan dan sikap sehingga menimbulkan tingkah laku progresif dan agresif. Suatu perubahan tingkah laku yang merupakan hasil dari pengalaman.
Gagne dalam Slameto (1988) memberikan dua defenisi tentang belajar, yaitu:
1.Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku.
2.Belajar adalah pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (1974) lebih rinci menjelaskan bahwa belajar merumuskan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut dari stimulasi lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh orang belajar. Dengan demikian, belajar adalah seperangkat proses kognitif, mengubah sifat kapabilitas baru. Sebagai ilustrasi siswa kelas II SMU mempelajari nilai luhur Pancasila. Kemudian siswa-siswa tersebut membaca berita dalam surat kabar tentang bencan alam di beberapa tempat di Indonesia. Secara sukarela mereka bersama-sama mengumpulkan bantuan dan terkumpul 4 kuintal beras, 100 potong pakaian, serta Rp 5.000.000 uang tunai langsung diserahkan ke Palang Merah Indonesia. Perilaku siswa mengumpulkan sumbangan tersebut merupakan hasil belajar tentang nilai luhur Pancasila. Sejalan dengan pendapat Skinner dalam Dimyati dan Mudjiono (1994) bahwa belajar adalah perilaku pada saat orang belajar, maka menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar, maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya kesempatan terjadi peristiwa yang menimbulkan respon untuk belajar dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut.
Slameto (1988) memberikan kesimpulan tentang pengertian minat belajar sebagai kecenderungan hati yang tinggi untuk berupaya, berlatih, dan sebagainya untuk mendapatkan kepandaian sebagai hasil yang dibuahkan dari belajar tersebut.
1.Fungsi dan peranan minat dalam meraih prestasi belajar
Minat merupakan aspek kejiwaan yang abstrak, hanya dapat diketahui dengan mengadakan pengukuran terhadap fakta dari kecenderungan orang pada obyek sebagai akibat dari dorongan minatnya. Minat seseorang dapat diketahui tinggi rendahnya dengan melihat sejauh mana intensitas orang tersebut terhadap suatu objek, atau dengan kata lain minat seseorang dapat dilihat dan diukur dari seberapa jauh orang bersangkutan memahami atau menguasai obyeknya (Sabri, 1996).
Sabri (1996) lebih lanjut menjelaskan bahwa minat merupakan faktor psikologis, dapat mempengaruhi belajar. Dalam hal ini, akan menimbulkan perasaan senang. Menerima dan suka terhadap bahan pelajaran yang akan dipelajari. Senang terhadap guru yang mengajarnya dan senang terhadap lingkungan tempat dimana orang tersebut belajar seperti kondisi kelas, teman-temannya, sarana mengajar dan sebagainya.
Adapun minat yang dapat menunjang prestasi belajar adalah minat kepada bahan pelajaran dan minat kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya, maka siswa tidak mau belajar. Oleh karena itu, apabila siswa tidak berminat sebaiknya dibangkitkan sikap positif kepada pelajaran dan kepada gurunya, agar siswa dapat belajar dan memperhatikan pelajaran dengan baik (Sabri, 1996).
Seseorang yang tidak atau kurang berminat terhadap pelajaran, maka orang tersebut akan menunjukkan sikap tidak simpatik seperti malas dan tidak bergairah. Sebaliknya, orang yang berminat terhadap pelajaran, maka akan menunjukkan sikap simpatik, rajin, dan penuh gairah dalam menekuni pelajaran, sehingga melahirkan hasil yang memuaskan (Whitherington, 1984).
Kepuasan yang diperoleh seseorang atas hasil kerjanya akan membuat orang tersebut tertarik dan senang berkecimpung pada bidang itu. Perasaan senang dapat menimbulkan lahirnya minat. Hal ini, sesuai dengan pendapat Winkel (1984) bahwa perasaan senang akan menimbulkan sikap positif dan sikap positif akan menimbulkan minat belajar. Dengan demikian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar