Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 11 Maret 2009

ORANG BUTA TIDAK BUTA LAGI


Itulah jeritan teman-teman kita yang menderita karena kehilangan fungsi indera penglihatannya. Mata merupakan organ tubuh yang sangat penting. Begitu pentingnya sehingga ada ungkapan bahwa melalui mata kita dapat melihat kepribadian seseorang. Eye is the window to the soul! Banyak yang menyatakan bahwa mata tidak pernah bisa berbohong. Mata benar-benar merupakan jendela untuk melihat ke dalam diri dan jiwa manusia. Dan bukan itu saja! Mata juga merupakan jendela yang memungkinkan kita bisa melihat berbagai keindahan dunia ini. Lalu bagaimana kalau indera penglihatan kita itu rusak? Hilang jugakah harapan kita untuk terus menikmati warna-warni dunia?

Mata kita menjalani serangkaian proses untuk dapat melihat. Proses ini mirip dengan proses yang terjadi dalam sebuah kamera saat digunakan untuk memotret. Gelombang cahaya masuk melewati sejumlah lensa kamera yang kemudian memfokuskan gambar yang kita potret serta memproyeksikannya ke permukaan film. Pada mata kita, yang berfungsi sebagai film adalah retina.

Sel-sel yang menyusun retina pada mata kita terdiri dari sel-sel berbentuk batang (rod), kerucut (cone), dan sel-sel ganglia. Total sel yang berbentuk batang dan kerucut bisa mencapai jumlah 125 juta sel. Semuanya berfungsi sebagai sensor cahaya atau photoreceptor. Rasio perbandingan rod dan cone bisa mencapai 18 banding 1 (rod lebih banyak dari cone). Rod merupakan sel-sel yang paling sensitif karena walaupun hanya ada sedikit cahaya (misalnya hanya ada satu partikel foton) sel-sel ini masih tetap dapat mendeteksinya.

Gangguan penglihatan umumnya disebabkan rusaknya fungsi rod dan cone. Kerusakan ini dapat berakibat buta sebagian sampai buta total. Kerusakan photoreceptor ini (biasanya keturunan) disebut Retinitis Pigmentosa (RP). RP dapat terjadi pada usia dini. Gangguan penglihatan lainnya yang juga sering terjadi adalah menurunnya fungsi macula disebabkan usia tua atau dikenal sebagai Age-related Macular Degeneration (AMD). Photoreceptor yang mengalami degenerasi ini adalah retina bagian luar dan retina bagian dalam pada macula.

ARCC merupakan microchip yang juga terbuat dari bahan silikon yang sangat mirip dengan ASR. Luas permukaan chip ini sekitar 2 mm2, dengan ketebalan 0,02 mm. ARCC mengandung sel-sel photoreceptor yang langsung aktif saat ada cahaya yang masuk ke mata. Chip ini dipasang sebagai implant di bagian atas retina (tidak di tengah-tengah lapisan retina seperti ASR). Kedua alternatif microchip ini sama-sama menjanjikan kembalinya penglihatan, setidaknya kemampuan untuk melihat hitam dan putih (bukan detil warna). Chip mana pun yang dipilih oleh penderita yang tadinya sudah hampir kehilangan penglihatannya pasti dapat membantu mengembalikan harapan mereka untuk kembali melihat dunia. (Yohanes Surya/rmb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar